Tulisan-tulisan yang ada di dalam blog ini dibuat dengan bersusah payah. Hargailah dengan TIDAK meng-COPY/PASTE.

Sabtu, 19 Desember 2009

[Cerpen] Misteri di Ladang (Bagian 2 dari 2)

Catatan penyuntingan:
08 Oktober 2020. Disunting.

Ilustrasi
Misteri di Ladang (Bagian 2 dari 2)
Cerpen karya Jannu A. Bordineo

"Jadi, bagaimana caranya?" tanya Adul dan Dadung hampir bersamaan.

Anto memandang kedua temannya. "Mudah saja. Kita ke ladangnya Pak Tono nanti malam."

"Kau serius?" tanya Adul.

"Ya. Apa kamu takut?" tantang Anto.

"Eh..., eng...enggak!"

"Oke, nanti malam, jam tujuh, kita berkumpul di sini lagi. Masing-masing membawa senter. Kebetulan besok libur, jadi tidak akan dimarahi orang tua."

Adul dan Dadung pulang. Malamnya, tepat pukul tujuh, mereka sudah berkumpul di rumahnya Anto.

"Aku membawa parang untuk berjaga-jaga," kata Dadung sampil menunjukkan parang yang dibawanya.

"Semua sudah siap?" Anto mendapat anggukan kepala. "Kalau begitu kita berangkat sekarang."
LautanKata
Mereka berangkat menuju ladang Pak Tono. Mereka lewat belakang rumahnya Adul, karena dari situ bisa langsung menuju ladangnya Pak Tono. Setelah menyebrangi sungai, mereka berjalan mengendap-endap. Berusaha untuk tidak membuat suara. Bahkan lampu senter mereka matikan untuk menghindari ada yang tahu keberadaan mereka.

Tak berapa lama mereka sampai di dekat pondok kecil milik Pak Tono. Di pondok ada cahaya kemerah-merahan. Anto yang berada paling depan memberi isyarat kepada temannya untuk berhenti.

"Kita tunggu sebentar disini."

"Apa tidak terlihat?" tanya Dadung.

"Tidak. Kita di balik semak-semak, tak akan terlihat," kata Anto. Dia memperhatikan sekeliling. Keadaan sangat gelap, padahal sedang bulan purnama. Tapi cahaya bulan belum mampu menembus rimbun pepohonan. Satu-satunya yang bisa diandalkan hanya pendengaran.

"Lihat! Ada bayangan dari arah pondok!" kata Adul.

"Mana?"

"Sudah hilang. Tadi ada bayangan seperti bayangan orang," kata Adul. Bulu kuduknya mulai berdiri.

Tiba-tiba terdengar suara orang bercakap-cakap dari arah pondok. Mereka bertiga tersentak kaget. Suara yang mereka dengar seperti suara Pak Tono. Anto keluar dari persembunyiannya, disusul kawannya.

"Oi! Apa di dalam Pak Tono?" seru Anto.
LautanKata
Tak ada jawaban. Hanya terdengar langkah kaki. Seseorang keluar dari dalam pondok. Pak Tono.

"Siapa di sana?" tanya Pak Tono sambil menyoroti Anto dan kawannya.

"Ini Anto, Pak!"

"Oh, Anto. Sini masuk ke dalam pondok."

Mereka bertiga masuk kedalam pondok. Di dalam juga ada Pak Odi. Lilin mereka gunakan sebagai penerangan.

"Ngapain kalian malam-malam ke sini?" tanya Pak Tono.

"Kami ingin mengetahui apa yang terjadi di sini. Kemarin pagi Adul mendengar suara ledakan dari arah sini," jelas Anto.

"Oh! Itu suara petasan," sahut Pak Odi.

"Lalu, apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Adul.

"Kami di sini untuk menjaga ladang dari babi hutan," jelas Pak Tono.

"Tapi kenapa memakai petasan?" tanya Adul lagi.

"Untuk menakut-nakuti. Sewaktu mendengar suara petasan, babinya lari, kemudian bapak kejar sampai ladang jagung. Bapak mencoba menyabet pakai golok tapi tidak kena. Babinya berputar-putar di ladang sebelum masuk ke hutan."

"Jadi, jagung itu rebah karena sabetan golok?" ganti Anto yang bertanya.

"Ya, iyalah."
LautanKata
Anto, Adul dan Dadung tertawa sendiri mendengar cerita yang sebenarnya. Jadi yang mereka kira 'alien' ternyata babi. Akhirnya, mereka bertiga ikut membantu Pak Tono menjaga ladang. Lalu arang yang mereka temukan? Ternyata arang dari bambu yang di pakai sebagai obor oleh Pak Tono dan Pak Odi.

(Bagian 1)




________

Tulisan sebelum disunting:

"Jadi, gimana caranya?" tanya Adul dan Dadung hampir bersamaan.
Anto memandang kedua temannya. "Mudah saja. Kita ke ladangnya Pak Tono nanti malam."
"Kau serius?" Tanya Adul.
"Ya. Apa kamu takut?" Tantang Anto.
"Eh..., ng...nggak!"
"Oke, nanti malam, jam 7, kita berkumpul disini lagi. Masing-masing membawa senter. Kebetulan besok libur, jadi tidak akan dimarahi orang tua."

Adul dan Dadung pulang. Malamnya, tepat jam 7, mereka sudah berkumpul di rumahnya Anto.
"Aku membawa parang untuk berjaga-jaga," kata Dadung sampil menunjukkan parang yang dibawanya.
"Semua sudah siap, kalau begitu kita berangkat sekarang." Anto memberi instruksi kepada kawannya.
LautanKata
Mereka berangkat menuju ladang Pak Tono. Mereka lewat belakang rumahnya Adul, karena dari situ bisa langsung menuju ladangnya Pak Tono. Setelah menyebrangi sungai, mereka berjalan mengendap-endap. Berusaha untuk tidak membuat suara. Bahkan lampu senter mereka matikan untuk menghindari ada yang tahu keberadaan mereka. Tak lama mereka sampai di dekat pondok kecil milik Pak Tono. Di pondok ada cahaya kemerah-merahan. Anto yang berada paling depan memberi isyarat kepada temannya untuk berhenti.
"Kita tunggu sebentar disini."
"Apa tidak terlihat?" Tanya Dadung.
"Tidak. Kita di semak-semak, tak akan terlihat," kata Anto. Dia memperhatikan sekeliling. Keadaan sangat gelap. Padahal sedang bulan purnama. Tapi cahaya bulan belum mampu menembus rimbun pepohonan. Satu-satunya yang bisa diandalkan hanya pendengaran.
"Lihat! Ada bayangan dari arah pondok!" Kata Adul.
"Mana?"
"Sudah hilang. Tadi ada bayangan seperti bayangan orang," kata Adul. Bulu kuduknya mulai berdiri.

Tiba-tiba terdengar suara orang bercakap-cakap dari arah pondok. Membuat mereka bertiga tersentak kaget. Suara yang mereka dengar seperti suara Pak Tono. Anto keluar dari persembunyiannya, disusul kawannya.
"Oi!!! Apa di dalam Pak Tono?" Teriak Anto.
LautanKata
Tak ada jawaban. Hanya terdengar langkah kaki. Pak Tono keluar dari dalam pondok.
"Siapa disana?" Tanya Pak Tono sambil menyoroti Anto dan kawannya.
"Ini Anto, Pak!"
"Oh!!! Anto. Sini masuk kedalam pondok."
Mereka bertiga masuk kedalam pondok. Di dalam juga ada Pak Odi. Lilin mereka gunakan sebagai penerangan.
"Ngapain kalian malam-malam kesini?" Tanya Pak Tono.
"Kami ingin mengetahui apa yang terjadi di sini. Kemarin pagi Adul mendengar suara ledakan dari arah sini," jelas Anto.
"Oh! Itu suara petasan," sahut Pak Odi.
"Lalu, apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Adul.
"Kami disini untuk menjaga ladang dari babi hutan," jelas Pak Tono.
"Tapi kenapa memakai petasan?"Tanya Adul.
"Untuk menakut-nakuti. Sewaktu mendengar suara petasan, babinya lari, kemudian bapak kejar sampai ladang jagung. Bapak mencoba menyabet pakai golok tapi tidak kena. Babinya berputar-putar di ladang sebelum masuk kehutan."
"Jadi jagung itu rebah karena sabetan golok?"
"Ya, tentu saja."
LautanKata
Anto, Adul dan Dadung tertawa sendiri mendengar cerita yang sebenarnya. Jadi yang mereka kira 'alien' ternyata babi. Akhirnya, mereka bertiga ikut membantu Pak Tono menjaga ladang. Lalu arang yang mereka temukan? Ternyata arang dari bambu yang di pakai sebagai obor oleh Pak Tono dan Pak Odi.

(part1)
Cerpen oleh Jannu A. Bordineo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang santun dan sesuai dengan isi tulisan.