Tulisan-tulisan yang ada di dalam blog ini dibuat dengan bersusah payah. Hargailah dengan TIDAK meng-COPY/PASTE.

Senin, 28 Desember 2009

DI KALA SEPI PENGUNJUNG

Jari-jari kecil itu dengan lembut menekan tombol ketik. Berirama. Seolah memainkan alat musik. Seorang anak SMP menghampirinya. Menghentikan kegiatannya.
"Sudah, mbak!" Kata anak itu.
Dia melihat ke monitor komputer. "Tiga ribu, dik!"
Anak itu segera membayar dengan uang pas dan meninggalkan tempat itu. Perempuan itu memandang anak SMP itu sampai tak terlihat. Dia segera memasukkan uang ke dalam laci.
LautanKata
Novi, itulah namanya. Seorang wanita muda, berparas manis dan bekerja menjadi penjaga warnet. Dia baru saja lulus dari SLTA, tapi tidak kunjung mendapatkan pekerjaan sehingga dia menerima tawaran tetangganya untuk menjaga warnet. Disela-sela pekerjaannya, apa bila sepi pengunjung, dia selalu menyempatkan diri untuk mengetik. Mengetik naskah novel yang telah dibuatnya. Jadi seorang sastrawati adalah cita-cita masa kecilnya yang ingin diwujudkan.

Novi kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti. Kecepatan mengetik yang dimilikinya berkat terbiasa mengetik sejak menjadi penjaga warnet. Suara ketikan yang berirama kembali terdengar. Tapi, itu tak lama. Datang lagi pengunjung.
"Ada yang kosong?" Tanya seorang lelaki paruh baya. Sepertinya seorang pegawai negeri.
"Oh, ada! Ruang 6!" kata Novi sembari tersenyum. Dalam hati dia bertanya-tanya, kok masih ada ya pegawai negeri yang tak punya komputer atau laptop sendiri? Bukankah sekarang pegawai negeri sudah makmur? Sudahlah bukan urusanku.
LautanKata
Jam dinding tepat menunjuk angka 5. Ini adalah saat pergantian giliran jaga, karena di warnet ini ada penjaga lagi selain Novi yang bertugas di siang hari. Dia segera meringkasi barang-barangnya. Dan tak lupa menyimpan ketikannya ke dalam flashdisk miliknya. Seseorang datang. Dia adalah Andi, yang bertugas malam.
"Ku serahkan pada mu. Aku pulang dulu," kata Novi.
Andi hanya tersenyum. Cowok satu ini adalah teman Novi semasa sekolah dan sama-sama belum mendapatkan pekerjaan.

Jarak rumah Novi tak sampai 100 meter dari warnet. Sehingga dia hanya berjalan kaki.
"Bu, aku pulang!"
Tak ada jawaban.
"Ibu!" Panggil Novi.
"Ibu ikut pengajian, kak!" Itu suara adiknya Novi yang sedang menonton TV. Novi hanya tinggal dengan adik dan ibunya di rumah kecil peninggalan ayahnya yang telah meninggal. Kehidupannya sangat sederhana. Ibunya hanya seorang penjahit. Itulah sebabnya Novi mau menjaga warnet, tak lain untuk membantu membiayai sekolah adiknya yang masih kelas 5 SD.
LautanKata
Selesai mandi dan makan, Novi bergabung dengan adiknya.
"Kak, tadi aku kewarnet dekat sekolahku." Bowo, adiknya membuka pembicaraan.
"Terus ada apa?" Tanya Novi.
"Di sana sekarang tarifnya 2500 per jam. Jadi warnet tempat kakak kerja yang masih 3000 per jam," ungkap Bowo.
Novi tersenyum. "Ya, nanti ku beri tahu bos kakak!"

Keesokan harinya, Novi mengadu ke bosnya perihal tarif warnet. Tapi bosnya bersikeras tidak akan menurunkan tarif. Alasannya jika tarif turun tak kan ada laba. Hanya cukup untuk menggaji penjaga, membayar listrik dan membayar tagihan telepon. Novi hanya bisa menyetujui pendapat bosnya.

Pada akhirnya, warnet itu semakin sepi pengunjung dan akhirnya tutup karena bangkrut. Kekeras kepalaan bosnya membuat Novi kehilangan pekerjaan. Pemilik warnet menjual semua komputer. Novi membeli 3 unit komputer dengan uang tabungannya sejak SD. Harapannya ingin membuka warnet sendiri.

Setelah segala perizinan selesai, berdiri juga warnet yang diidamkan Novi. Warnet itu memakai ruang tamu rumahnya yang kecil, tapi tetap cukup untuk tempat 2 buah unit komputer (salah satu komputer digunakan sebagai komputer induk dan tidak di sewakan).
Dengan bantuan adiknya, warnet miliknya cepat dikenal dikalangan pelajar. Tak pernah sepi pengunjung.
LautanKata
Novi tetap melanjutkan kegiatan mengetiknya disela-sela waktunya. Warnet miliknya hanya buka siang hari, sehingga Novi bisa bebas mengetik ketika malam.
Karenanya, naskah novel buatannya sudah selesai. Dia mengirimkan karyanya ke penerbit nasional yang terkenal. Dia menunggu balasannya dengan harap-harap cemas. Tak henti-hentinya dia memohon agar novelnya diterima ketika berdoa.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Tapi bersama naskah yang dikirimkan. Tertulis di selembar kertas, penolakan dari penerbit. Hal ini membuatnya kecewa. Tapi tak membuatnya putus asa. Novi semakin bersemangat untuk memperbaiki karyanya.

Tak terhitung sudah berapa kali penolakan terhadap karyanya dari penerbit yang berbeda. Kali ini Novi sedang menunggu balasan dari penerbit nasional lainnya. Harapan untuk naik cetak sudah mulai pudar.
Akhirnya balasan dari penerbit datang juga. Membuat Novi terkejut karena kali ini karyanya diterima.

Novel karyanya telah terbit dan cukup mendapat respon dari masyarakat dari berbagai kalangan. Novi bahagia. Impiannya akan segera terwujud. Kehidupannya bersama adik dan ibunya sekarang serba berkecukupan.
LautanKata
Novi tetap mengelola warnet kecil miliknya. Dan disela-sela waktunya, di kala sepi pengunjung, Novi tetap mengetik naskah novel baru, novel selanjutnya yang akan terus melanjutkan usahanya untuk menggapai impian.

Cerpen oleh Jannu A. Bordineo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang santun dan sesuai dengan isi tulisan.