Tulisan-tulisan yang ada di dalam blog ini dibuat dengan bersusah payah. Hargailah dengan TIDAK meng-COPY/PASTE.

Jumat, 20 November 2009

BATU LONCATAN

“Ngapain sih, Yah? Enakan ke kebun binatang,” Rudi menolak ajakan ayahnya.
“Kan kita sudah lama nggak kerumah kakek dan nenekmu,” jelas ayah.
“Nggak mau!” Rudi bersikeras dengan pendapatnya.
“Kalo nggak mau ya sudah. Kamu jaga rumah saja,” ibu yang dari tadi diam saja angkat bicara.
Rudi menggelengkan kepalanya.
“Oke! Besok sabtu kita ke rumah kakek,” ayah mengambil keputusan.
Jadilah akhir pekn ini keluarga Pak Karyo pergi ke desa kelahiran Pak Karyo, yaitu rumah kakek dan neneknya Rudi. Mereka berangkat sabtu sore. Sesampainya di desa, hari sudah gelap. Karena tidak ada yang menarik bagi Rudi, dia langsung tidur karena kecapekan.
Keesokan paginya, Rudi duduk-duduk di teras rumah kakek bersama kakek. Ibu sedang memasak didapur bersama nenek, sedangkan ayah sedang memperbaiki kandang ayam bersama paman.Pandangan Rudi tertuju ke suatu tempat. Sekumpulan anak-anak yang sedang bermain dihalaman rumah kakek. Sedang bermain apa mereka?
“Sekarang kamu sudah kelas berapa, Rud?” Tanya kakek tiba-tiba.
“Eh, apa kek?” Rupanya Rudi terlalu terfokus pada anak-anak yang sedang bermain.
Kakek tersenyum. Mengetahui cucunya sedang memperhatikan anak-anak yang sedang bermain.“Rudi sudah kelas berapa?”
“Kelas 4, kek,” jawab Rudi singkat. Pandangannya kembali tertuju ke anak-anak itu.
Kakek tersenyum melihat tingkah laku cucunya itu.
Rudi mengalihkan pandangannya sejenak ke kakeknya. ”Mereka sedang main apa, kek?”
“Gobak…”
“Sodor! Ya, Gobak Sodor!” Rudi menyela perkataan kakeknya.
“Kamu ingat, dulu kamu sering bermain gobak sodor bersama sepupumu Anto.”
“Ya, aku ingat! Itu sudah lama sekali, kek,” Rudi senyum-senyum mengingat masa kecilnya.
“Anto, coba kesini sebentar!” Kakek memanggil Anto.
“Iya, kek!” Suara Anto terdengar dari belakang diikuti suara langkah kakinya. “Ada apa, kek?”
“Rudi ajak bermain biar nggak bosan!”
“Oke, kek!” Kata Anto. “Ayo Rud, ikut aku!” Sambungnya lagi.
“Kemana?”
“Sudahlah, ikut saja!”
“…”
LautanKata
Ternyata Anto mengajak Rudi memancing di sungai kecil yang melewati tengah-tengah desa. Dalam perjalanan, Anto banyak bercerita mengenai sungai itu. Sungai itu bernama Kalitengah. Disebut seperti itu karena sungai ini melewati tengah-tengah desa dari timur menuju ke barat. Sungai ini juga yang menjadi asal usul nama desa ini. Desa Kalitengah.

“Sungai apa kanal?” Komentar Rudi begitu sampai.
“Memang sungai ini hanya selebar 3 meteran. Tapi sungai ini mempunyai mata air sendiri, jadi berbeda dengan kanal,”terang Anto.
“Oh, begitu.”
Meski sungai ini kecil, airnya tidak pernah kering dan sangat bening. Bahkan Rudi bisa melihat ikan bergerak dengan lincah di dasar sungai yang berbatu.

Tak berapa lama, datang dua orang temannya Anto. Mereka berdua juga membawa pancing.
“Hai, aku Adul.”
“Aku Tono. Salam kenal.”
“Aku Rudi. Salam kenal juga,” kata Rudi sambil menjabat tangan mereka berdua.
“Sebaiknya kita segera mencari tempat memancing mumpung hari masih pagi,” usul Anto.
“Benar juga,” kata Tono. “Umpannya sudah kamu persiapkan nggak Dul?”
“Beres.”

Merekapun berjalan menyusuri sungai ke arah timur. Berlawanan arus sungai. Mereka berhenti di sebuah air terjun kecil yang tingginya tak lebih dari 3 meter. Tempatnya rindang dan riak-riak air dari air terjun mengundang banyak ikan.
“Oke, disini saja kita mancing. Ini tempat mancing terbaik di sungai ini yang kuketahui,” kata Anto.
Peralatan pancing mereka siapkan. Sebuah joran pancing yang terbuat dari bambu dengan seutas senar pancing yang diikatkan di ujungnya dan juga pelampung dari karet sandal yang berfungsi sebagai tanda jika umpan dimakan ikan. Tak lupa juga kail kecil. Alat pancing yang mereka pergunakan memang sederhana, tapi cukup efektif jika digunakan di sungai kecil seperti ini. Mereka segera memasang umpan dan mengambil posisi.
LautanKata
Semuanya membisu. Hanya memperhatikan pelampung masing-masing. Rudi tak berkedip mengawasi pelampung miliknya. Meskipun tidak pernah memancing di sungai, Rudi tidak terlalu kikuk karena sudah biasa memancing di kolam pemancingan dan peralatannyapun tidak jauh berbeda. Hanya medannya yang berbeda. Berarus.
Tak berapa lama, pelampung milik Rudi bergerak-gerak. Dengan sigap Rudi menyentakkan jorannya. Joran itu melengkung sebelum ikan terangkat. Seekor ikan tawes berukuran lima jari terkail olehnya.
“Ini coba lihat! Hahaha,” Rudi memamerkan tangkapannya begitu di lepaskan dari kaitan kail.
“Tunggu saja sebentar lagi, pasti aku mendapat yang lebih besar,’ kata Adul.
‘Bener, Dul!” Kata Anto dan Tono menyetujui.
Rudi segera memasukkan ikan tangkapannya ke tempat yang sudah dipersiapkan. Memasang umpan lagi dan melemparkan kailnya ke sungai.

Hampir satu jam setelahnya, tidak ada lagi ikan yang mau menyambar umpan mereka. Akhirnya diputuskan untuk menyudahinya.
“Sebentar!” Kata Adul tiba-tiba.
“Ada apa lagi, sih?” Gerutu Tono. Rupanya dia jengkel karena tidak mendapatkan ikan.
“Ada yang menyambar umpanku.”
Mereka memperhatikan pelampung pancing milik Adul. Bergerak-gerak.
“Tarik!” Seru Anto.
Adul menyentakkan pancingnya. Jorannya melengkung tajam. Adul berusaha keras mengangkat tangkapannya.
“Huahaha!!!” Tawa Rudi, Anto dan Tono bersamaan begitu Adul berhasil menaikkan tangkapannya.
“Sialan. Aku pikir ikan besar. Ternyata sepatu yang ku dapat,” maki Adul. Hari ini bukan hari baik baginya. Biasanya dialah yang mendapat ikan paling banyak ketika memancing.

Tono dan Adul langsung pulang. Tapi Rudi dan Anto masih di sungai. Anto ingin menunjukkan sesuatu kepada Rudi. Mereka berjalan lebih ketimur, tapi tidak terlalu jauh dari air terjun. Anto berhenti dan menunjuk ke sungai, ke bebatuan besar di sungai.
“Ini? Ini yang mau kamu tunjukkan kepada ku?”
“Ya.”
Aneh, pikir Rudi. Sepupunya hanya menunjukkan tiga buah batu besar di sungai yang sepertinya menjadi sarana penyeberangan alami.
“Batu-batu itu dinamai ‘Batu Loncatan’. Kita harus meloncat jika ingin melintasinya. Biasa dipakai penduduk desa sebagai alternatif penyeberangan.”
“ Batu loncatan itu…,” Rudi tidak menyelesaikan kata-katanya.
“Itu bukan kiasan, tapi karena jarak antar batunya agak jauh kita harus melompat untuk mencapai batu berikutnya,” kata Anto sambil menapaki batu-batu itu keseberang sungai. “Apa kamu bisa melewati batu loncatan?” Tanya Anto dari seberang sungai.
Rudi merasa direndahkan. “Huh, apa susahnya melewati batu seperti itu?”
Rudi melompat ke batu pertama. Kebatu kedua, tapi batunya tiba-tiba menjadi licin sekali.

BYUUR
LautanKata
Rudi terpeleset dan jatuh kesungai. Untung saja sungainya hanya sedalam setengah meter. Rudi segera kepinggir. Anto membantunya naik.
“Susah kan,” kata Anto setelah menolong Rudi.
“Aneh. Batunya tiba-tiba jadi licin,” gumam Rudi.
“Batu ini dari dulu memang begini?”
“Apanya?”
“Batu ini sepertinya nggak mau dilewati oleh orang yang di dalam hatinya ada kesombongan.”
“…”
“Coba kamu lewati sekali lagi baru kita pulang.”
Memang tadi aku merasa bisa melewati batu ini, kata Rudi pada ditinya sendiri. Sekarang dia mencoba melewatinya lagi.

Rudi berhasil melewati batu loncatan. Meski masih terasa agak licin.
“Benarkan apa yang ku bilang tadi?” kata Anto dalam perjalanan pulang.
“Ya,” jawab Rudi singkat.
Setelah itu mereka berdua membisu dalam perjalanan.
LautanKata
Sorenya, Rudi dan kedua orang tuanya kembali ke kota. Kunjungannya kali ini kerumah kakeknya menambah pengalamannya akan nilai-nilai kepribadian yang luhur yang di dapatkannya dari Batu Loncatan.

Cerpen oleh Jannu A. Bordineo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang santun dan sesuai dengan isi tulisan.