Tulisan-tulisan yang ada di dalam blog ini dibuat dengan bersusah payah. Hargailah dengan TIDAK meng-COPY/PASTE.

Kamis, 12 November 2009

JAMBU MONYET

Siang ini panas banget. Karena itu kuputuskan untuk ke kebun milik kakek. Letaknya cukup jauh. Aku mengambil jalan pintas melewati sungai.
“Mau kemana, Dul?” Tanya Parmin, tetangga sebelah rumah. Dia penggila memancing. Kerjaannya setiap hari sepulang sekolah selalu memancing. Dan sekarang, diapun sedang mancing.
“Mau ke kebun,”jawabku singkat.
“Eh, di sana banyak hantunya lho,”candanya diiringi tawanya yang keras.
“Halah, tunggu terus sampe tua. Paling juga nggak dapat,”kataku ketus sambil berlalu.

Dari sungai, letak kebun tidak begitu jauh. Hanya sekitar 500 meter. Sesampainya di kebun, hawa panas yang tadinya kurasakan berubah menjadi hawa sejuk. Mungkin karena rindangnya pepohonan, pikirku.
LautanKata
Aku memeriksa pohon jeruk yang kutanam. Subur sekali. Padahal baru seminggu ku tanam. Tak sengaja aku melihat pohon jambu di kebun sebelah. Buahnya lebat banget. Kerena tenggorokanku terasa kering dan buahnya yang ranum, aku tergiur untuk mengambilnya satu dua biji. Aku celingak-celinguk untuk memastikan tidak ada Pak Soim, empunya pohon jambu itu. Perlahan-lahan kudekati pohon itu. Kemudian dengan tangkas ku panjat. Diatas pohon aku memilih buah yang sudah matang. Ku cicipi. Segar dan manis rasanya.

Cukup lama juga aku berada diatas pohon. Tanpa ku sadari, Pak Soim memperhatikanku dari kejauhan.
“Woiii, siapa itu yang nyuri jambuku?”Teriaknya dari kejauhan.
LautanKata
Aku kaget setengah mati dan dengan gugup aku segera turun. Sialnya, karena tergesa-gesa aku menginjak dahan yang lapuk. BRUUK!!! Aku terjatuh dari pohon. Belum hilang rasa sakitku, aku mendengar teriakannya lagi. Kali ini lebih dekat. Aku segera mengambil langkah seribu.

“Woiii, monyet, jangan lari kau!!! Teriaknya lagi. Tak ku pedulikan teriakannya. Aku terus lari sampai rumah.
LautanKata
Keesokan harinya aku bertemu Pak Soim ketika berangkat sekolah.
“Eh, jambu monyet,”sindirnya. Dia menyindirku dengan kata ‘jambu monyet’. Aku hanya menunduk saja sampai dia lewat.

Sejak itu, aku merasa sungkan bila bertemu Pak Soim. Walaupun Pak Soim tidak pernah mempermasalahkan hal itu, aku merasa malu jika bertemu dia.

Cerpen oleh Jannu A. Bordineo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang santun dan sesuai dengan isi tulisan.