Tulisan-tulisan yang ada di dalam blog ini dibuat dengan bersusah payah. Hargailah dengan TIDAK meng-COPY/PASTE.

Minggu, 08 September 2019

[Esai] Ngegas Dulu, Mikir Belakangan

Ngegas dulu, mikir belakangan. (me.me)
Ngegas Dulu, Mikir Belakangan
—Esai oleh Jannu A. Bordineo—

Benar bahwasanya rendahnya minat baca berbanding lurus dengan rendahnya tingkat literasi (literasi baca tulis: kemampuan untuk memahami isi teks tertulis (tersurat maupun tersirat)).
lautankata.com
Dan fakta yang membuktikan hal ini baru saja "menghantam"-ku….

Entah berapa kali aku terjebak dalam perdebatan kusir (baca: adu bacot) di medsos. Meski sekarang aku sudah berusaha menghindari perbuatan sia-sia semacam itu, barusan aku tanpa sengaja terseret ke dalam suatu perdebatan di kolom komentar.

Jadi ceritanya, ada kiriman dari suatu akun lembaga edukasi yang membahas dampak buruk subsidi bagi perekonomian suatu negara. Lalu ada yang berkomentar bahwa lembaga tersebut pro pemerintah yang kebetulan memang diberitakan akan mengurangi subsidi di beberapa sektor. Komentar itu masih ditambah dengan usulan agar lembaga tersebut membahas juga soal infrastruktur yang menurutnya tidak langsung memberi manfaat bagi rakyat, sehingga mengindikasikan bahwa yang berkomentar ini berada di kubu yang biasa me-nyinyir-i segala kebijakan pemerintah.
lautankata.com
Maka ramailah balasan di komentar tersebut.

Ada yang pro, ada yang kontra. Yang kontra; beberapa berusaha mendebat komentar tersebut, beberapa lainnya—banyak—hanya memuntahkan sumpah serapah khas para perundung (pem-bully).

Nah, aku sendiri membalas komentar tersebut dengan sindiran. Aku kutip pernyataan di komentar itu soal infrastruktur disertai foto jalan masuk ke kampungku yang belum diperbaiki. Secara tersirat aku ingin bilang, "Bagaimana bisa infrastruktur tidak mendatangkan manfaat langsung bagi rakyat? Daripada jalan rusak begini, tentu mobilisasi rakyat (terkait perekonomian) akan lebih mudah kalau jalannya bagus."

Namun sepertinya pesan sederhanaku itu banyak yang tidak bisa menangkapnya. Jadilah aku sasaran pem-bully-an dari beberapa akun. Bahkan ada juga yang mengatai aku sebangsa dengan si pemberi komentar: bangsa kelelawar yang suka menyalahkan presiden.
lautankata.com
Memprihatinkan rasanya. Pesan tersirat sesederhana itu saja sampai harus diberi konfirmasi agar pada mengerti. Tapi, aku tidak kaget, karena mengetahui betapa rendahnya minat baca orang Indonesia. Aku juga tahu orang-orang itu dengan mudahnya ngegas (mencak-mencak) karena masih kuatnya sentimen politik dalam diri mereka.

Seperti yang kita tahu bersama, politik dalam negeri selama beberapa tahun ini terbelah menjadi dua kubu hingga melahirkan dikotomi "berudu" dan "kelelawar". Walau aku pemilih capres yang kemarin menang pilpres untuk kedua kalinya, serta mendukung beberapa kebijakannya, aku tidak mau disebut atau mendaku diri sebagai spesies yang dialamatkan sebagai pendukung petahana. Karena, berudu maupun kelelawar, sama saja. Sama-sama barbar kalau ketemu lawan atau yang dikira lawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang santun dan sesuai dengan isi tulisan.