Tulisan-tulisan yang ada di dalam blog ini dibuat dengan bersusah payah. Hargailah dengan TIDAK meng-COPY/PASTE.

Senin, 25 Desember 2017

[Ulasan] Bernostalgia Dengan Jiwa Patriot

Jiwa Patriot
Ulasan oleh Jannu A. Bordineo

Sepertinya gaya penceritaan Pak Moerwanto benar-benar kegemaranku. Aku yang mulai kehilangan kenikmatan membaca bisa langsung menyelesaikan Jiwa Patriot dalam sekali waktu tanpa ada rasa bosan ataupun merasa berat untuk membaca setiap lembar halamannya.

Jadi ceritanya, aku yang ingin sekali membaca ulang Jiwa Pelaut—buku yang berpengaruh besar bagi diriku—mengunjungi Perpusda Jatim (Badan Perpustakaan Dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur) di Surabaya (22/13/1017). Sekadar memberi tahu, dua hari sebelumnya aku mengunjungi Jalan Semarang yang merupakan kawasan penjualan buku bekas, tetapi tidak menemukan satu judul pun buku karangan Pak Moerwanto. Maka dari itu, pilihan paling masuk akal untuk memuaskan dambaanku adalah pergi ke perpustakaan. Dan pilihanku jatuh ke perpustakaan yang berada di Jalan Menur ini mengingat ini adalah perpustakaan milik provinsi yang pastinya punya banyak koleksi.
lautankata.com
Ternyata, eh, ternyata. Buku yang kucari, Jiwa Pelaut, malah tidak ada. Namun, sebagai gantinya aku menemukan buku prekuelnya, Jiwa Pejuang, dan prekuelnya lagi—yang baru kutahu, Jiwa Patriot. Dan sepertinya juga ada prekuelnya lagi dengan judul Jiwa Bahari.

Karena keterbatasan waktu, yang sempat kubaca sampai tuntas hanya Jiwa Patriot.

Seperti halnya Jiwa Pelaut, buku ini juga sarat akan data sejarah yang sepertinya susah sekali—atau malah mungkin tidak ada—ditemukan di sumber lain. Jika Jiwa Pelaut menceritakan usaha para pelaut remaja RI menginfiltrasi Maluku yang masih dikuasai penjajah Belanda, maka Jiwa Patriot bercerita tentang keterlibatan para pelaut remaja BKR-Laut dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang melawan Jepang yang telah kalah perang tetapi enggan menyerahkan senjata kepada pejuang Republik. Selain itu, di bagian akhir dikisahkan pula detik-detik lahirnya ALRI.
lautankata.com
Karena pengarangnya terlibat langsung dalam pertempuran, sebagai bagian dari BKR-Laut, maka gambaran suasana dan jalannya pertempuran begitu hidup. Kita juga bisa menjumpai banyak tokoh sejarah yang merupakan rekan atau atasan sang pengarang. Yos Sudarso, Mulyadi, Suhadi, O.B Sjaaf, Subarkah, Kaniran dan pelaut remaja lainnya yang kelak menjadi laksamana-laksamana TNI-AL.

Khusus untuk Yos Sudarso, keberaniannya begitu dikagumi oleh sang pengarang yang merupakan sahabat dekatnya. Dari sini pulalah kekagumanku pada sosok Yos Sudarso berakar.

Penceritaan Pak Moerwanto betul-betul patut diapresiasi setinggi-tingginya. Narasi tentang jalannya pertempuran sangat seru, menegangkan, heroik—bertempur memakai senjata jadul peninggalan Perang Dunia I yang pelurunya banyak yang melempem, juga mengharukan—menemukan rekan sendiri tergeletak tidak bernyawa tanpa bisa menolong jenazahnya (bab: Tumbal TNI-AL yang Terlupakan), atau ketika rombongan pengungsi bergelimpangan diberondong pasukan Kido Butai yang ingin mengacaukan pertahanan pasukan Republik yang dibangun BKR-Darat.
lautankata.com
Tidak ketinggalan pula unsur jenaka, yang banyak pula terdapat di Jiwa Pelaut. Namun bukan lelucon garing yang dipaksakan. Kelucuan hadir dari keadaan yang tidak bisa dihindarkan dan diceritakan secara apik sehingga mampu memancing tawa. Contohnya: ketika para pelaut remaja ini harus berkubang lumpur dan tahi di saluran pembuangan demi menghindari terjangan peluru serdadu Jepang; atau ketika pasukan kita ada yang hampir ditembak rekan sendiri karena menggunakan pakaian atau topi khas serdadu Jepang; atau ketika menceritakan Yos Sudarso yang meraba-raba topi bajanya yang pesok-pesok kena hantam peluru, setelah menyerang sebuah gedung yang dikuasai Jepang dengan berani sekaligus nekat, seolah-olah dia lebih menyayangi topi bajanya daripada kepalanya.

Pendek kata, gaya penceritaan Pak Moerwanto ini begitu enak dibaca dengan alur yang mengalir lancar,  sampai-sampai cerita lain—dari penulis yang berbeda—yang kubaca di hari berikutnya terasa sangat bertele-tele.

Dengan membaca buku Jiwa Patriot ini,  di satu sisi dambaanku bisa terpenuhi. Sementara di sisi lain, aku jadi penasaran dengan buku kelanjutannya, Jiwa Pejuang, yang menceritakan perlawanan para pejuang RI—khususnya para pelaut remaja ALRI—menghadapi Belanda (NICA) yang datang kembali membonceng sekutu.

lautankata.com
Data buku
Judul: Jiwa Patriot
Pengarang: Moerwanto
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun: 1992
Hlm: 130
ISBN: 979-419-038-1
Blurb:
Pertempuran Lima Hari di Semarang pada awal Perang Kemerdekaan sudah menjadi tonggak sejarah. Dalam pertempuran tersebut para pelaut muda kita ikut ambil bagian. Mereka itu antara lain Yos Sudarso, O.B. Sjaaf, Nasir, Subarkah dan pelaut-pelaut remaja lainnya. Di kemudian hari nama mereka kita kenal sebagai laksamana-laksamana TNI-AL.
lautankata.com
Buku yang ditulis oleh salah seorang pelaku pertempuran itu penting sekali bagi para pelajar masa kini, guna memperoleh gambaran yang hidup tentang suasana dan jalannya pertempuran yang lakukan oleh para patriot bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang santun dan sesuai dengan isi tulisan.