Tulisan-tulisan yang ada di dalam blog ini dibuat dengan bersusah payah. Hargailah dengan TIDAK meng-COPY/PASTE.

Selasa, 17 Februari 2015

[Renungan] Hiu Indonesia

Oleh Jannu A. Bordineo

Barangkali semua orang sudah tahu, perairan Indonesia penuh dengan ikan hiu berbagai jenis. Terbanyak dibanding yang dimiliki negara lain. Namun siapa sangka, hiu-hiu penghuni laut Indonesia pernah begitu melimpah sampai-sampai tidak perlu jauh-jauh ke tengah laut lepas untuk menemui hiu-hiu berukuran jumbo.

Awalnya saya kira, hiu-hiu berukuran besar hanya menjelajah perairan samudra, di laut lepas, jauh dari pesisir. Kalaupun mendekati pantai, itu pun pantai yang menghadap laut lepas. Perkiraan yang timbul karena terpengaruh film. Nyatanya, di laut pedalaman seperti teluk pernah menjadi habibat hiu berukuran besar.
lautankata.com
Saya tidak menyangka, Teluk Balikpapan—tempat saya menimba pengalaman di laut semasa kecil—pernah dihuni oleh banyak sekali hiu berukuran besar. Pasalnya, selama di laut, saya tidak pernah mendapat hiu. Pernah sekali sewaktu mancing malam, famili saya yang ikut memancing dapat hiu yang ukurannya kecil, tak sampai sebetis.
Hiu macan
Sekalinya, dulu sewaktu almarhum kakek saya—H. Gani—aktif melaut, banyak sekali hiu-hiu berukuran besar yang berenang bebas di dalam teluk. Bahkan kakek saya saat memancing pernah umpannya dimakan hiu yang berukuran lebih besar dari perahu yang digunakannya. Alhasil, perahunya sempat terseret sebelum akhirnya senar pancingnya putus lantaran tidak mampu menahan kekuatan tarikan si hiu. Dan masih banyak lagi cerita-cerita seperti itu dari orang-orang tua di kampung.
lautankata.com
Cerita lain, saat orang maserok belat. Karena dulu belum ada pendingin/kulkas, jadi nelayan belat maserok pada malam hari agar ikan tidak cepat rusak karena sengatan matahari. Diceritakan, kalau kita menyorotkan senter ke sekitar belat, mudah sekali menemui hiu besar berenang di sekitar belat. Kadang jika hiunya berenang terlalu ke pinggir, akan tampak siripnya setinggi siku—sepanjang lengan bawah. Bayangkan sendiri besar ikan hiunya.

Dari penuturan nelayan di kampung saya, ada satu tempat paling banyak hiunya. Di muara Sungai Pumpun.

Walau banyak berkeliaran di dalam teluk, tidak pernah saya dengar cerita konflik antara hiu dengan manusia. Tidak seperti buaya, yang banyak juga ditemui di Teluk Balikpapan, yang kerap kali bentrok dengan manusia. Mungkin karena ketersediaan makanan yang melimpah. Yah, tidak Cuma hiu saja yang banyak, saat itu ikan dan hewan-hewan laut lainnya masih sangat banyak. Kakek saya dulu kalau maserok belat bisa dapat udang seperahu banyaknya. Belum ikannya.
lautankata.com
Tapi, seperti jumlah ikan lain yang menyusut, keberadaan hiu-hiu besar menghilang dari perairan teluk ini. Yang berukuran kecil mungkin masih bisa kita jumpai di titik-titik tertentu, seperti di muara Sungai Pumpun. Jika memancing di sana dan menemukan ‘sarang’nya, yang memakan umpan pasti hiu melulu. Tapi ya itu, hiunya pasti berukuran kecil.

Saya tidak tahu pasti apa yang menyebabkan hilangnya hiu-hiu besar di Teluk Balikpapan. Mungkinkah penangkapan berlebih? Setahu saya, hiu tidak pernah menjadi jenis yang diburu nelayan sini. Satu hal pasti yang saya tahu, keberadaan hiu-hiu besar di teluk ini telah menjadi kenangan masa lalu yang diwariskan melalui cerita kepada generasi sekarang dan yang akan datang.
lautankata.com
Semoga di tempat lain nasib hiu-hiu Indonesia bisa lebih baik. Pembatasan penangkapan dan konservasi mungkin bisa menjamin keberlangsungan ikan-ikan predator ini.

Berlanjut ke Hiu Kencana

maserok = menyerok

15 komentar:

  1. kalau hiu di perairan dangkal... apa mengancam keselamatan manusia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa saja, kalau di sana ada hiunya. tapi orang waras mana pun tidak akan nyemplung ke dalam air yang ada hiu atau buayanya tanpa alasan, bukan? :)

      Hapus
  2. Di Karimunjawa ada penangkaran Hiu tapi yang nggak ganas

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, asyik tuh. bisa dicemplungin :D

      Hapus
  3. Haduh... sedih kalo nemuin berita punahnya hewan-hewan langka kayak gini :(
    Seumur-umur aku belom pernah liat Hiu ukuran dewasa.. belum keturutan ke sea world :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenama harus ke sea world? beberapa wisata alam/laut di Indonesia kan ada tempat untuk melihat hiu secara langsung. contohnya di teluk cendrawasih, di sana kita bisa lihat bahkan berinteraksi langsung dengan hiu paus (hiu terbesar). tapi ya itu, ongkosnya lebih ^_^

      Hapus
  4. wah. masa sih ? keren banget kalau gitu ya. kekayaan laut kita dulu emang luar biasa. sekarang juga masih luar biasa sih. tinggal penanganan yang lebih baik aja

    BalasHapus
  5. beberapa orang bilang ini jenis predator, tapi semua itu sebagai bentuk keseimbangan ekosistem dan memang seperti itu ciptaan Allah, seiring dengan naiknya selera orang2 tolol yang mengkonsumsi sirip ikan hiu yang katanya bermanfaat, tapi sejatinya mereka di bodohi oleh mitos tidak masuk akal tentang khasiat sirip ikan hiu, perburuan ikan hiu semakin meningkat drastis, dan ini harus di waspadai

    BalasHapus
    Balasan
    1. termasuk juga sisik trenggiling, empedu beruang.

      yang mengonsumsi kebanyakan berasal dari negara maju yang orangnya sudah pintar(?)

      Hapus
  6. Saya malahan belum pernah liat hiu secara langsung, baru liat dari film-film saja. Agak miris juga sih saya pernah lihat di tayangan tv tentang pemburuan hiu, bahkan yang bikin miris adalah kebanyakan pemburu hanya mengincar siripnya aja. Dan ada juga hiu yang lagi hamil dan dibantai, ditunjukan bagaimana hiu itu dibelah dan janin-janin hiu yang rata-rata sudah berbentuk sempurna dan masih kecil dikeluarkan dari perut hiu, jujur saya merasa sangat sedih. Sungguh perbuatan yang keji

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu dia. Hanya siripnya saja yang diambil, sisanya dibuang, tersia-siakan.

      tapi, selama masih ada permintaan, hewan ini akan terus diburu sampai punah. kecuali ada penanganan yang tegas. beruntungnya, kementerian kelautan dan perikanan dipimpin oleh orang yang tepat.

      Hapus
  7. Semoga mereka hanya berpindah tempat bukan punah T.T

    BalasHapus

Berkomentarlah yang santun dan sesuai dengan isi tulisan.