Tulisan-tulisan yang ada di dalam blog ini dibuat dengan bersusah payah. Hargailah dengan TIDAK meng-COPY/PASTE.

Senin, 02 September 2013

Buku Terbaik yang Pernah Saya Baca


Resensi oleh Jannu A. Bordineo

Jiwa Pelaut, itulah buku terbaik yang pernah saya baca. Buku yang bercerita mengenai perjuangan pelaut remaja di masa perang kemerdekaan, yang menjalankan misi “penyelundupan” intelijen RI ke Maluku, yang saat itu masih dikuasai oleh penjajah Belanda. Cerita dalam buku ini begitu membekas dalam diri saya sehingga (bisa dikatakan) saya tumbuh besar bersama cerita dalam buku ini.

Awal mula
Perkenalan saya dengan buku ini adalah saat saya pindah ke sekolah yang berada di kampung kelahiran saya—di akhir semester kedua kelas 4 SD. Selayaknya sekolah yang berada di pelosok, infrstruktur sekolah itu pun sangat tidak memadai. Dimana perpustakaannya tak terurus dan menjadi satu dengan gudang. Karena sebab itu, akses ke perpustakaan sekolah sangat leluasa karena ruangannya tidak pernah dikunci dan tidak adanya penjaga perpustakaan.
LautanKata
Dengan semua keleluasan itu, akhirnya saya bisa mengobati rasa dahaga saya akan buku bacaan. Sebagai informasi, di sekolah lama saya, minat baca saya seperti “terkekang” oleh kekonyolan pihak sekolah yang menutup rapat-rapat perpustakaannya sehingga menjadi tempat yang asing bagi kebanyakan siswa. Kekonyolan yang mungkin dilakukan oleh hampir semua sekolah di Indonesia baik itu di jenjang SD, SMP maupun SMA/SMK.

Sejak saat itu saya dikenal sebagai “kutunya” kutu buku. Bagaimana tidak, jika saya melahap puluhan, bahkan ratusan buku demi memuaskan rasa keingintahuan saya yang sedang tinggi-tingginya kala itu. Dengan leluasa saya meminjam dan membawa pulang buku untuk di baca di rumah. Setelah menumpuk, baru saya kembalikan. Biasanya sekali mengembalikan tas sekolah saya penuh oleh buku yang saya pinjam. Bisa dibayangkan sendiri berapa puluh judul yang diperlukan untuk mengisi satu tas sampai penuh.

Saat itu, ketertarikan saya lebih kepada buku-buku cerita daripada buku ilmiah (kecuali buku pengetahuan populer semacam ensiklopedia). Saya melahap hampir semua buku cerita, baik itu novel/roman dan buku kumpulan cerpen yang ada di perpustakaan. Ada juga sih beberapa judul yang tidak saya baca karena isinya tidak terlalu menarik untuk saya.
LautanKata
Dari semua buku yang saya baca, ada satu yang begitu membekas dan begitu berpengaruh bagi diri saya. Buku yang isinya masih saya ingat sampai saat ini. Buku itu berjudul Jiwa Pelaut. Buku yang berlatarbelakang perang kemerdekaan.

Pengaruh
Dari buku ini saya belajar, persatuanlah yang menjadi kunci bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya. Sebagaimana yang tercermin dalam buku ini. Di mana dari dua kapal yang menjalankan misi (kapal Semeru dan Sindoro), seluruh ABK-nya berasal dari berbagai latar belakang suku maupun agama yng berbeda. Tapi, semuanya mengesampingkan hal itu dan bersatu dibawah bendera merah putih demi suksesnya misi. Ada satu adegan saat Yos Sudarso—yang non-muslim—mengingatkan Anto (penulis) untuk sholat, sesaat sebelum kapal mereka terpisah. Di sinilah terlihat betapa semangat Bhinneka Tunggal Ika sangat dijunjung tinggi oleh para pejuang. Semangat itulah yang terbawa dalam diri saya yang menjadi sensitif terhadap hal-hal yang menyinggung SARA.

Dari buku ini saya belajar, untuk tidak terlalu mempercayai sejarah yang tertulis di buku-buku sejarah saat di sekolah. Sejarah sarat dengan kepentingan penguasa, karenanya sejarah bisa berbeda di rezim yang berbeda. Itu yang saya percaya. Di dalam buku ini saya mendapati peristiwa bersejarah yang kenyataannya berbeda dengan apa yang tertulis di buku sejarah. Pemerintah seakan-akan mengerdikal peran pejuang dari Indonesia timur. Saya tanya kepada pembaca, siapa sajakah pahlawan/pejuang dari Indonesia timur yang kalian ketahui selain Pattimura?
LautanKata
Karena buku ini, darah pelaut yang ada dalam diri saya menggelora. Bagaimana tidak, petualangan-petualangan seru yang mereka lakukan selama berlayar—walaupun dalam kerangka misi militer—benar-benar menyihir dan mempesona saya.  Dan membuat saya ingin merasakannya juga. (Salah satu cita-cita saya adalah berlayar keliling Indonesia)

Dan didorong oleh buku ini, saya jadi ingin menulis cerita yang ada unsur petualangannya. Ya! Setelah membaca Jiwa Pelaut, cerita lainnya—terutama cerita percintaan—menjadi kurang seru saya rasa. Sejak itu saya mulai melajar menulis cerita sendiri. Hobi saya yang sebelumnya hanya membaca bertambah menjadi satu, menulis.

Berpisah
Setelah lulus SD saya meneruskan sekolah di Pulau Jawa. Saya masih ingat, saya menyimpan satu eksemplar buku Jiwa Pelaut di rumah—yang berarti tidak mengembalikan buku yang saya pinjam. Bukan contoh yang baik, memang. Tapi ini saya lakukan karena melihat kondisi perpustakaan sekolah yang sangat memprihatinkan. Eksemplar yang saya simpan adalah buku yang memiliki kondisi paling baik. Lainnya, ada yang tidak utuh / hilang halamannya maupun tercerai berai halamannya seperti yang saya pinjam saat membaca.
LautanKata
Saya sekolah di Jawa tanpa tahu kondisi buku itu. Saat saya pulang liburan, dan mencari keberadaan  buku itu, saya tidak pernah menemukannya lagi. Hilang begitu saja.

Bertahun-tahun berlalu. Saya sekolah sampai tamat, kemudian kerja, sampai akhirnya pulang kampung. Saya hampir lupa dengan buku ini, meski beberapa kenangan mengenai isi cerita masih sering terlintas dalam benak saya.

Akhirnya
Entah datang dari mana ide untuk melacak kembali buku Jiwa Pelaut, karena saya ingin memiliki buku ini sebagai salah satu koleksi saya. Dan mulailah saya mencari buku ini, via internet. Mulanya cukup sulit karena penerbitnya pun saya tidak tahu, lebih-lebih isbn.
LautanKata
Tapi akhirnya saya menenemukan juga apa yang saya cari. Buku ini diterbitkan oleh Pustaka Jaya, penerbit yang.... sedang sekarat!!! Setelah saya cari tahu, Pustaka Jaya adalah penerbit buku-buku berkualitas—yang sayangnya nasibnya tak seberuntung Gramedia. Beruntungnya, penerbit ini masih mampu bertahan meski terseok-seok. Dan pembaca masih bisa membeli buku-buku lama terbitan Pustaka Jaya.

Kedepannya saya akan membeli buku Jiwa Pelaut dan juga, buku seri sebelumnya dan lanjutannya, Jiwa Pejuang dan Jiwa Petualangan.



Data Buku

Judul                 :  Jiwa Pelaut
Penulis              :  Moerwanto
Penerbit            :  Pustaka Jaya
ISBN                :  979-419-198-1
Tahun Terbit      : 1995 Cet. 1
















Sumber gambar: http://perpustakaan.ikafo.org/lib/phpthumb/phpThumb.php?src=../../images/docs/jiwapelaut.JPG&w=200

12 komentar:

  1. wah belum pernah baca buku itu, namapknya bagus sesuai dgn jiwa pelaut bangsa ini (bangsa maritim) :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang bagus :)
      dan tidak membosankan untuk dibaca

      Hapus
  2. Menarik membaca ulasannya, saya sendiri anak gunung karena lahir dan besar didaerah pegunungan :-) jadi membaca tentang kehidupan pelaut akan sangat menambah wawasan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kebalikan dengan saya yang anak pelaut :)

      Hapus
  3. Saya kurang tahu buku terbaik apa yg pernah saya baca. Tapi saya ingat buku cerita yg saya suka banget pas zaman SD dulu. Judulnya Jago-Jago Bandung Selatan. Dulu ada di perpustakaan sekolah saya yg agak bobrok itu, hehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. kurang lebih sama dengan saya, perihal perpusnya :)

      Hapus
  4. buku terbaik yang pernah saya baca adalah buku ESQ bukunya pak ari ginanjar kalau nggak salah mas

    BalasHapus
  5. Woa, baru tahu soal buku ini .___.

    BalasHapus
  6. bukunya terbitan lama ya
    tapi sepertinya bagus sampai jadi buku terbaik yang pernah kamu baca

    BalasHapus

Berkomentarlah yang santun dan sesuai dengan isi tulisan.