Tulisan-tulisan yang ada di dalam blog ini dibuat dengan bersusah payah. Hargailah dengan TIDAK meng-COPY/PASTE.

Minggu, 08 Januari 2012

UJUNG DUNIA 2 - SEBUAH PERINGATAN DAN SARAN

(Ujung Dunia: Bab 2 - Sebuah Peringatan dan Saran)

"Ada apa, Kek?" tanya Feno membuka pembicaraan setelah melihat Kakek Billy selesai membereskan meja-meja. Kedai kopi itu kini telah sepi. Hanya tinggal Feno dan Kakek Billy di sana.

Kakek Billy menghampiri Feno dan duduk di samping Feno. Rambut putihnya terlihat basah oleh keringat.
"Sebaiknya aku mulai dari mana dulu, ya?" Lelaki tua itu malah balik bertanya. 
LautanKata
Feno mengernyitkan dahinya. Bingung.
"Terserah Kakek sajalah!" kata Feno sambil mengangkat bahu.

"Okelah kalo begitu," Kakek Billy diam sejenak, wajahnya yang sudah penuh kerutan sekarang tanpa ekspresi, "kau tahukan, tiga hari yang lalu ada orang dari SP, Serikat Perdamaian, datang ke kota ini?"

"Ya. Lalu?"

"Tujuan mereka, sesuai yang mereka katakan, mengumpulkan sebanyak mungkin informasi terkait kemungkinan terjadinya tindakan kejahatan perang selama Perang Besar Samudra sesuai isu yang telah beredar," terang Kakek Billy.

"Hanya itu?" sela Feno.

"Apanya?"

"Yang ingin Kakek sampaikan?"

"Oh, tidak! Tunggulah dulu sampai penjelasanku selesai!"

LautanKata
Sengaja Kakek Billy tidak memberitahukan secara langsung apa yang ingin dia sampaikan, karena dia tahu Feno bukanlah bocah biasa. Tapi, seorang bocah yang pintar dan telah mencapai kedewasaan mental dan pikiran di usia yang relatif sangat belia.

"Untuk hal itu, SP menyebar orang-orangnya untuk mencari informasi di berbagai tempat. Tahukah kamu tempat apa saja itu?" Kakek Billy melanjutkan penjelasannya sembari sesekali melontarkan pertanyaan pada Feno.

"Tidak," jawab Feno singkat karena sejauh ini dia belum mengerti arah pembicaraan Kakek Billy.

"Pulau Bordiso, Sisi Barat, Sajojo, Seraca, Laut Ketenangan, Teluk Tortuga. Secara intensif dikunjungi orang-orang SP. Dan sekarang Ulin Batok. Bukankah tempat-tempat ini tidak begitu asing?"

"Ya!" sahut Feno cepat dan bersemangat seperti telah menemukan sesuatu yang menarik. "Jika SP ingin menemukan informasi tentang kejahatan perang, tentu mereka akan mencarinya di tempat terjadinya pertempuran selama perang."

Kakek Billy mengangguk. Ekspresi wajahnya masih tetap datar.

"Tapi, kenapa kota Tapal-Wates dan pulau-pulau di Samudra Tengah tidak mereka kunjungi? Bukankah dua wilayah itu tempat terjadinya pertempuran dahsyat dan mengerikan secara terus-menerus selama perang?"

Melihat Feno bingung akan argumennya sendiri membuat Kakek Billy tersenyum, kini wajahnya kembali terlihat ramah. Lelaki tua itu tahu, apa yang diketahui bocah itu akan sejarah perang 10 tahun lalu adalah apa yang bocah itu baca di buku maupun koran-koran lama. Karena pada saat itu usia Feno baru 3 atau 4 tahun.

"Sepertinya ada maksud lain dari pengumpulan informasi oleh SP," kata Kakek Billy.

Kembali, Feno mengernyitkan dahinya.

"Kamu belum tahu, tempat-tempat yang aku sebutkan tadi adalah wilayah yang paling sering dikunjungi oleh Altras," sambung Kakek Billy.

Feno terperanjat kaget. Kini dia mulai mengerti akan apa yang ingin Kakek Billy sampaikan. Dia tidak habis pikir, lagi-lagi semua ini berhubungan dengan pulau misterius itu.

"Jika menyangkut mengenai Altras, bukankah itu seperti impianmu dan teman-temanmu. Mengarungi semua samudra--termasuk 'dua samudra itu'-- dan menemukan pulau tak dikenal itu?"

Feno Mengangguk dan diam tanpa kata. Membiarkan pikirannya melayang berandai-andai.
"Tadi, ketika kapal Orang Laut datang, Kapten Frishman memberitahukankanku...."

"Kapten Frishman?" sela Feno untuk kesekian kalinya.

"Itu nama asli Kapten Gorila, dia bilang, telah melihat orang-orang Serikat Perdamaian lebih mengintrogasi dari pada mencari informasi pada orang-orang--yang kebanyakan kenal dekat dengan Altras. Karena itu aku minta padamu, untuk tidak mengatakan secara blak-blakan impian kalian pada orang yang tidak begitu kalian kenal."

"Maksudnya?"
LautanKata
"Mereka mungkin akan bertindak lebih. Berhati-hatilah! Aku mencemaskan keselamatan kalian," kata Kakek Billy dengan tulus.
Feno tersenyum. "Terima kasih, Kek!"

"Itu saja yang ingin Kakek sampaikan. Sebaiknya kamu pulang dan beristirahat," kata Kakek Billy menutup pembicaraan.

Feno segera berajak dari tempat itu setelah mengucapkan selamat malam. Dia sempat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 02:45 pagi. Dia berjalan santai meski pikirannya masih melayang-layang memikirkan semua itu. Sedangkan Kakek Billy segera menutup kedainya setelah melihat Feno sampai pada tikungan jalan.
Cerbung oleh Jannu A. Bordineo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang santun dan sesuai dengan isi tulisan.